Lumpur Lapindo: 19 Tahun Menyembur, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Lumpur Lapindo: 19 Tahun Menyembur, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Pernah dengar kalau semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo sudah berhenti? Faktanya, sejak pertama kali muncul pada 29 Mei 2006, lumpur panas masih terus menyembur hingga sekarang. Meskipun tekanannya melemah, asap putih beraroma gas tetap terlihat di sekitar lokasi. Bahkan, beberapa ahli menyebut semburan ini bisa bertahan puluhan hingga ratusan tahun!

Kondisi Terkini Lumpur Lapindo

Menurut Amien Widodo, pakar geologi dari ITS, tekanan lumpur yang melemah mungkin dipengaruhi oleh aktivitas pembukaan sumur baru oleh PT Lapindo Brantas, yang kini mengolah gas menjadi LPG. Namun, selama masih ada gas di dalam tanah, semburan ini diperkirakan akan terus berlangsung.

Dari Mana Asal Lumpur Lapindo?

Para ahli geologi sepakat bahwa lumpur yang menyembur berasal dari Formasi Kalibeng Atas, lapisan serpih berumur Pleistosen pada kedalaman 1200–1800 meter. Namun, asal usul air yang menyertainya masih menjadi misteri. Sejauh ini, ada tiga teori utama mengenai sumber airnya:

  1. Berasal dari transformasi mineral ilit ke smektit di Formasi Kalibeng.
  2. Berasal dari lapisan batugamping Formasi Prupuh/Kujung yang lebih dalam.
  3. Kombinasi dari kedua sumber tersebut.

Lumpur ini diperkirakan bermigrasi ke permukaan melalui jalur patahan utara-timur (UT-ST) yang terkait dengan Sesar Watukosek. Reaktivasi patahan ini membuat lumpur terdorong ke atas, diperparah dengan interaksi pada patahan baratlaut-tenggara (UB-SE). Sayangnya, keterbatasan data geofisika membuat struktur bawah permukaan sebelum dan sesudah semburan masih belum sepenuhnya dipahami.

Apa sih Penyebab Sebenarnya: Pengeboran atau Gempa Bumi?

Debat soal penyebab utama semburan ini masih berlangsung. Dalam Konferensi American Association of Petroleum Geologists (AAPG) di Afrika Selatan, para ilmuwan dunia kembali membahas dua teori besar:

-       Teori 1: Kesalahan Pengeboran

Tim dari Durham University, Inggris, yang dipimpin Richard Davies menyatakan bahwa pengeboran sumur gas Banjar Panji-1 adalah penyebab utama. Mereka berargumen bahwa:

·       Tidak ada lapisan penyekat di bawah sumur, sehingga lumpur terdorong keluar.

·       Tekanan fluida bawah tanah terlalu tinggi.

·       Kegagalan pengeboran lebih berperan dibanding aktivitas tektonik.

-       Teori 2: Akibat Gempa Bumi

Sementara itu, tim dari Adelaide University, Australia, yang dipimpin Mark Tingay menyebut bahwa gempa Yogyakarta pada 27 Mei 2006 menjadi pemicu utama. Alasannya:

·       Gempa 6,3 magnitudo mereaktivasi Patahan Watukosek sebagai jalur keluarnya lumpur.

·       Zona tekanan tinggi sudah ada sebelumnya, dan gempa hanya sebagai pemicu.

·      
Fenomena ini mirip dengan letusan gunung lumpur di berbagai belahan dunia.

 Voting Ilmuwan Dunia, Siapa yang Menang?

Dalam sesi debat panjang selama 2,5 jam, dilakukan voting oleh para ilmuwan dunia. Hasilnya:

  •        42 suara menyebut penyebab utama adalah kesalahan pengeboran.
  •        3 suara menyatakan gempa bumi sebagai penyebab.
  •        13 suara memilih kombinasi pengeboran dan gempa.
  •        16 suara masih belum menentukan opini.

Mayoritas ilmuwan sepakat bahwa pengeboran menjadi penyebab utama. Namun, apakah semburan ini akan benar-benar berhenti suatu hari nanti? Hingga kini, jawabannya masih menjadi misteri. Satu yang pasti, lumpur Lapindo tetap menjadi salah satu fenomena geologi paling kontroversial di Indonesia dan dunia.

 

 

 

 

 

Posting Komentar

0 Komentar